The Institute Of Technology of Islamic Students University

Pemberitahuan MUNAS IV LTMI & EXPO TEKNOLOGI-UKM

May 20, 2008 · 2 Comments

April 30, 2008 · No Comments

Nama kegiatan ini adalah MUSYAWARAH NASIONAL KEEMPAT DAN EXPO UKM & GELAR KARYA TEKNOLOGI KEDUA LEMBAGA TEKNOLOGI MAHASISWA ISLAM HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (MUNAS IV DAN EXPO UKM-GKT II LTMI-HMI) dengan tema :

“Penguatan Peran Lembaga Dalam Membangun Fungsi Transformasi Iptek dan Kemitraan; Upaya Menumbuhkan Ekonomi Lokal”

WAKTU & TEMPAT PELAKSANAAN

MUNAS IV & EXPO UKM-GKT 2 LTMI-HMI akan dilaksanakan pada tanggal  6 sampai dengan 8 Juni 2008 di Cepu, Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah.

 ORGANISASI KERJA

Organisasi kerja pelaksanaan MUNAS IV & EXPO UKM-GKT II LTMI-HMI yaitu :

Ø Penanggungjawab umum adalah BAKORNAS LTMI – PB HMI dengan memandatkan ke panitia pengarah (Steering Committee) selaku penanggungjawab atas seluruh kegiatan MUNAS & EXPO UKM-GKT.

Ø Panitia Kerja (Organizing Committee) selaku penanggungjawab kegiatan secara teknis operasional MUNAS & EXPO UKM-GKT diserahkan kepada pengurus LTMI Cabang Blora dan Semarang, sesuai dengan keputusan Munas sebelumnya.

 

 SEKRETARIAT PANITIA

Sekretariat Panitia Pusat MUNAS IV & EXPO UKM-GKT II LTMI-HMI:

Jl. Kalasan Dalam No. 14 Pegangsaan, Menteng Jakarta Pusat

Telp. 021 – 391 4640 Fax. 021 – 31909093

HP.     085885544110 (Hermansyah)

08157623054 (Ardhinata)

08157799512 (Andyka)

081326340394 (Rizal)

Website: www.ltmi.wordpress.com

   www.bakornasltmi.or.id

Email :    ltmigobal@yahoogroups.com

    bakornasltmi@gmail.com

 

AGENDA ACARA

 

Hari I (Kamis, 5 Juni 200 8)

12.00 – 24.00  Registrasi Peserta MUNAS IV & GKT-UKM II LTMI-HMI

 

Hari II (Jumat, 6 Juni 200 8)

09.00 – 11.00  PEMBUKAAN

1.          Pembacaan ayat Suci Al Qur’an

2.          Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne HMI

3.          Laporan Ketua Panitia

4.          Sambutan – sambutan:

-      Ketua Umum PB HMI

-      Direktur Eksekutif Nasional BAKORNAS LTMI-HMI

5.          Sambutan Ucapan Selamat Datang oleh Bupati Blora: RM Yudhi Sancoyo

6.          Keynote speaker oleh : Dr. Akbar Tanjung

Tema : “Membumikan Ilmu Pengetahuan & Teknologi Upaya Mengemban Tanggung Jawab Spritual dan Tanggung Jawab Sosial”

7.          Orasi Ilmiah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Ir. Purnomo Yusgiantoro

Tema :     “Peran Pemerintah Dalam Mendorong Perusahaan Pertambangan & MIGAS Agar Menjadi Katalisator Pertumbuhan Ekonomi Lokal”

8.          Pemukulan Gong sebagai tanda Pembukaan secara resmi kegiatan MUNAS IV & GKT-UKM II LTMI-HMI oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral didampingi oleh Ir. Akbar Tanjung, Bupati Blora, Ketua Umum PB HMI dan Direktur Eksekutif Nasional BAKORNAS LTMI-HMI.

9.          Penutup dan Do’a

10.      Pemotongan Pita Tanda Pembukaan EXPO UKM - GELAR KARYA TEKNOLOGI II LTMI oleh Bupati Blora sekaligus Peninjauan Arena Expo.

 

13.00 – 17.00 SESI DISKUSI I

“Prospek dan Tantangan Pengembangan Industri MIGAS Nasional; Optimalisasi Eksplorasi dan Eksplotasi Cadangan MIGAS”

Panelis :      1. Dirjen MIGAS Dept. ESDM

                  2. Direktur Utama PT. Pertamina

                  3. Presiden Direktur Medco Energy

                  4. Presdir PT Bukit Asam

                  5. Dirut PT. PGN

 

HARI II (Sabtu, 7 Juni 200 8)

09.00 – 12.00  SESI DISKUSI II

”Tanggung Jawab Sosial Persahaan dalam Penguatan UKM untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat; CSR dan Implementasinya”

Panelis :  1. Presiden Direktur KSO Pertamina-Exxon Cepu

              2. Ketua DPRD Blora

              3. Kepala Dinas Perindagkop Blora

 

13.00 – 17.00  SESI DISKUSI III

”Tantangan Penyediaan Teknologi Bersih dan Energi Ramah Lingkungan”

Panelis :  1. Direktur Utama PT. PLN

              2. Ketua Umum Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia

              3. Deputi KLH

 

 

HARI IV (Minggu, 8 Juni 200 8)

09.00 – 12.00  SESI DISKUSI IV

“Strategi Pengembangan UKM; Pengembangan Teknologi Tepat Guna dan Pendayagunaan Teknologi  Informasi dan Komunikasi (TIK) ”           

Panelis :    1. Dirjen Dept. Koperasi dan UKM

                2. Rektor Universitas Diponegoro Semarang: Prof. Dr. dr. Susilo Wibowo, Ms, Med, Sp.And.

                3. Dirjen Sarana Komunikasi dan Desiminasi Informasi Dep. Kominfo: Drs. Freddy H. Tulung, MUA.

 

13.00 – 16.00  DISKUSI V

“Tantangan Rekayasa Teknologi Industri Nasional”       

Panelis :    1. Sekjen DKP RI

                2. Dirut PT. Semen Gresik

                3. Dirut PT. Petrokimia Gresik

                4. Dir. PT. Adhi Karya

                5. Deputi Perkembangan RIPTEK Kem. Ristek: Ir. Bambang Sapto Pratomosunu

               

         

16.30– 18.00 ACARA PENUTUPAN MUNAS IV & GKT – UKM II LTMI – HMI

             Ramah-Tamah dengan Bupati Blora

 

Persyaratan Peserta Cabang LTMI/Cabang HMI

1. Mandat dari insitusi pengutus

2.Registrasi Rp. 100.000,- / delegasi

3.Cek in mulai kamis 5 Juni 2008

 

→ 2 CommentsCategories: Uncategorized

PEMANFAATAN REMOTE OPERATED VEHICLE (ROV) UNTUK PENELITIAN LAUT DALAM

May 12, 2008 · 1 Comment

PEMANFAATAN REMOTE OPERATED VEHICLE (ROV) UNTUK PENELITIAN LAUT DALAM

 

1. Pendahuluan

Dewasa ini, perkembangan teknologi bawah air menungkat sangat pesat. Fenomena termutakhir pada buka Agustus 2007 adalah ditemukannya kotak hitam pesawat Adam Air yang telah dinyatakan hilang di perairan laut Masalembo Sulawesi Barat. Esuksesan mengangkat black box (kotak hitam) milik maskapai Adam Air yang hilang di perairan Masalembo setelah kurang lebih 6 (enam) bulan lamanya sejak bulan Januari 2007, telah membuka mata lebar-lebar betapa kecanggihan teknologi robotic, -yang dalam kasus ini disebut Remote Operated Vehicle (ROV), telah begitu sangat vital dalam pekerjaaan laut dalam yang tidak bisa dijangkau oleh jasad manusia.

 

ROV yang berbentuk kapal selam mini tanpa awak ini dikendalikan dari kapal EDT Offshore milik Phoenix International, sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Chicago, Amerika Serikat. Dengan kemampuan menyelam yang mencapai 6.000 meter di bawah permukaan laut, membuat ROV tidak kesulitan untuk mengangkat black box Adam Air yang hanya berada di kedalaman 2.000 meter.

 

Pada fenomena lain, setahun setelah badai tsunami berlalu, para peneliti dari Jepang dan Indonesia melakukan pelayaran ke perairan Aceh dengan kapal R/V Natsushima, milik Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) guna mendeteksi penyebab terjadinya bencana tsunami 26 Desember 2004 tersebut melalui rekahan lempengan dan biota laut dengan menggunakan sebuah robot ROV. Hasil dari penelitian ini akan menjadi acuan bagi para peneliti untuk memprediksi gempa-gempa atau tsunami berikutnya.

 

Sebelumnya, pada bulan Mei 2005, juga telah dilakukan sebuah proyek dengan nama Sumatra Earthquake and Tsunami Offshore Survey (SEATOS 2005). Proyek ini melibatkan ilmuwan mancanegara dari berbagai bidang ilmu seperti seismologi, geofisika, biologi, dan tsunami, yang tujuannya melakukan investigasi tentang perubahan yang terjadi di dasar lautan India, pasca tsunami. Survei tersebut dilakukan di atas kapal survei M/V Performer milik Oceaneering International, Houston, Texas, yang antara lain menggunakan ROV Magellan 825, ROV yang bisa beroperasi sampai dengan kedalaman 7500 m.

 

2. Sekilas tentang ROV.

2.1. Pengertian ROV.

Definisikan ROV (Remotely Operated Vehicle) menurut Marine Technology Society ROV Committee’s dalam “Operational Guidelines for ROVs” (1984) dan The National Research Council Committee’s dalam “Undersea Vehicles and National Needs” (1996) adalah pada dasarnya sebuah robot bawah laut yang dikendalikan oleh operator ROV, untuk tetap dalam kondisi yang aman, pada saat ROV bekerja di lingkungan yang berbahaya.

 

Remote Operation Vehicle (ROV) secara luas dikenal sebagai nama umum bagi kapal selam mini yang kerap digunakan pada industri minyak dan gas lepas pantai. Kapal selam ini tak berawak, tapi dioperasikan dari kapal lain. Keduanya terhubung melalui kabel yang berfungsi juga sebagai penambat.

 

ROV tersusun dari satu set pengapung besar di atas sasis baja atau aluminium agar. Pengapung itu biasanya terbuat dari busa sintetis. Di bagian bawah konstruksi terpasang alat-alat sensor yang berat. Komposisi ini–komponen ringan di atas dan berat di bawah–akan menghasilkan pemisahan yang besar antara pusat apung dan pusat gravitasi. Maka alat ini pun lebih stabil di dasar laut saat melakukan tugas-tugasnya.

 

ROV memiliki kemampuan manuver yang tinggi. Kabel tambat berfungsi mengirimkan energi listrik serta data video dan sinyal. Saat bertugas memasang kabel-kabel listrik tegangan tinggi, ROV biasanya ditambahkan tenaga hidrolik.

 

Sistem ROV terdiri atas vehicle (atau sering disebut ROV itu sendiri), yang terhubung oleh kabel umbilical ke ruangan kontrol dan operator di atas permukaan air (bisa di kapal, rig atau barge). Yang paling juga adalah sistem kendali, sistem peluncuran dan sistem suplai tenaga listrik maupun hidrolik. Melalui kabel umbilical, tenaga listrik dan hidrolik, juga perintah-perintah, atau sinyal-sinyal kontrol, disampaikan dari ruang kontrol ke ROV, secara dua arah. ROV dilengkapi dengan peralatan atau sensor tertentu seperti kamera video, transponder, kompas, odometer, bathy (data kedalaman) dan lain-lain tergantung dari keperluan dan tujuan surveinya.

 

Kebanyakan ROV dilengkapi dengan kamera video dan lampu. Kemampuannya bisa ditingkatkan dengan menambahkan sonar, magnetometer, kamera foto, manipulator atau lengan robotik, pengambil sampel air, dan alat pengukur kejernihan air, penetrasi cahaya, serta temperatur.

 

Kabel-kabel ROV dilapisi dengan tabung penuh minyak agar terhindar dari korosi air laut. Alat pendorong dipasang di tiga lokasi agar menghasilkan kontrol penuh terhadap alat itu. Adapun kamera, lampu, dan lengan manipulator berada di bagian depan atau belakang.

 

2.2. Sejarah ROV

Secara pasti siapa yang pertama kali membuat ROV tidak diketahui secara jelas. Namun setidaknya ada dua peristiwa penting, ketika diluncurkannya PUV (Programmed Underwater Vehicle) yang dibuat oleh Luppis-Whitehead Automobile di Austria pada tahun 1864. Sebutan ROV sendiri pertama kali dibuat oleh Dimitri Rebikoff tahun 1953, yang membuat ROV dengan nama POODLE. (Marine Technology Society).

 

Angkatan Laut Amerika Serikat selajutnya mengembangkan teknologi ini. Dengan dukungan teknologi tinggi dasn pendanaan besar mereka mengembangkan ROV untuk mengangkat ranjau-ranjau di dasar laut dan peristiwa hilangnya bom atom di Spanyol pada kecelakaan pesawat di tahun 1966. Teknologi ROV ini  dikembangkan sejak 1960-an oleh Angkatan Laut Amerika Serikat dengan tujuan awalnya untuk operasi penyelamatan dan pengambilan obyek di dasar laut.

 

Generasi berikutnya dengan semakin berkembangnya teknologi, ROV banyak digunakan untuk mendukung pekerjaan di pengeboran minyak lepas pantai. ROV pertama kali yang dilibatkan dalam hal tersebut adalah RCV-225 dan RCV-150 yang dibuat oleh HydroProducts, Amerika Serikat. Saa ini, pada saat kecenderungan eksplorasi minyak dan gas semakin dilakukan pada laut dalam, ROV telah menjadi suatu bagian yang penting dari operasional tersebut.

 

2.3. Tipe-tipe ROV

ROV terbagi atas berbagai tipe, tergantung dari kemampuan dan fungsi kerjanya. Ada Small Electric Vehicle, -ROV kecil, berdimensi mini untuk kedalaman kurang dari 300m, biasanya untuk keperluan inspeksi dan pengamatan, digunakan untuk inspeksi perairan pantai, juga untuk ilmiah, SAR, waduk, saluran air dan inspeksi nuklir.

 

Ada juga berdasarkan kemampuan kerjanya seperti tipe Work Class Vehicle, yang menggunakan listrik dan hidrolik sebagai sumber tenaganya. Sebagian besar tipe ini untuk mendukung pekerjaan pengeboran lepas pantai, yang digunakan untuk survey dan rektifikasi pipa gas bawah laut dan kelas inspeksi (inspection-class) dan yang kelas kerja atau (work-class). ROV kelas inspeksi ini kecil dan agak ringan, biasanya digunakan untuk survey dan pekerjaan test karat (catodhic protection) konstruksi platform dan bangunan air lepas pantai.

 

2.4. Sistem Kerja ROV.

Sistem ROV pada umumnya bekerja di atas wahana apung seperti kapal, barge, atau rig. Bila sistem ROV dipasang diatas kapal, maka posisi ROV di bawah laut akan mengacu pada titik referensi di kapal. Untuk keperluan survei, kapal biasanya menggunakan DGPS (Differential Global Positioning System) sebagai penentuan posisi utamanya. Sedangkan untuk posisi di bawah laut, sistem ROV dilengkapi dengan alat penentuan posisi bawah laut menggunakan gelombang suara (Acoustic Underwater Positioning). Salah satu metode ini adalah Ultra Short BaseLine (USBL), yang akan mengukur jarak, kedalaman, dan azimut ROV terhadap transduser USBL yang dipasang di kapal.

 

Posisi ROV dan data navigasi lainnya, dalam sistem koordinat tertentu akan didapat dan melalui perangkat lunak navigasi tertentu, akan dikirimkan secara real time ke ruang kontrol ROV.

 

Sistem ROV disamping menggunakan teknologi mutakhir, juga didukung oleh sumber daya manusia yang profesional di bidangnya. Dukungan peralatan suku cadang dan training bagi para operatornya selalu dilakukan secara periodik.

 

3. Aplikasi ROV.

Dalam perkembangannya kini, pemakaian ROV banyak digunakan baik untuk kepentingan kalangan militer, bisnis atau komersial, maupun akademis dan riset. Sekarang berbagai pasar sedang menemukan kebutuhan untuk ROV seperti ilmu kelautan, pemancingan, teknik sipil, keamanan, pendeteksian kandungan mineral dan lain sebagainya.

 

Kini, ROV menjadi multiguna. Antara lain untuk tujuan dokumentasi den eksplorasi dasar laut, penanggulangan, penyelidikan, pencarian dan pertolongan (SAR), pengeboran tambang, penggalian/penguburan bentangan kabel dan lain sebagainya.

 

3.1. Bidang Pertambangan, Minyak dan Gas Lepas Pantai

Di bidang pertambangan, perminyakan dan gas lepas pantai, baik di dalam maupun luar negeri, penggunaan ROV sudah tidak asing lagi. Mulai dari perencanaan, pemasangan atau konstruksi sampai dengan perawatan fasilitas bawah laut tidak lepas dari peran ROV.

 

Demikian juga untuk keperluan pertambangan, jasa ROV pernah digunakan oleh salah satu perusahaan tambang emas di Sumbawa pada tahun 1999-2000 dalam rangka pemasangan dan monitoring tailing line (pembuangan limbah) di palung laut selat Alas, Nusa Tenggara Barat.

 

Aplikasi lainnya adalah untuk keperluan survey dan perbaikan bawah laut. Pada kegiatan survey dan perbaikan pipa dibawah laut, yaitu survey posisi dan pemetaan dasar laut untuk melihat keamanan pipa dan jaringannya. Bila pipa dan jaringannya dibiarkan begitu saja maka akan timbul kerugian yang besar apalagi kalau pipa itu pecah dan meledak, maka pasokan gas akan terputus. Oleh karena itu seringkali kegiatan survey ini selalu bersamaan dengan perbaikan pipa atau dikenal dengan rektifikasi pipa.

Ini merupakan proyek atau pekerjaan oceanografi yang besar dan mahal disamping membutuhkan peralatan ROV, manusia yang berkeahlian dan kapal survey. Kapal surveynya sendiri juga mempunyai peralatan dynamic position (DP) yaitu semacam baling-baling atau thruster. Hal ini diperlukan, karena kapal tidak boleh buang jangkar ditengah laut pada saat survey sehingga tidak mengganggu pipa-pipa yang akan disurvey dan direktifikasi.

 

Pipa gas dan jaringannya terhampar begitu saja dibawah laut, kondisi topografi bawah laut itu seperti halnya didarat, turun naik, berbukit-bukit tingginya bervariasi antara 0 sampai 60 meter. Kondisi inilah yang menyebabkan pipa gas itu bebas atau yang sering disebut dengan istilah freespan, artinya pipa itu tidak didukung oleh penyangga diantara dua buah bukit. Freespan bisa panjang-panjang, kalau freespan-nya panjang maka perlu adanya penyangga biasanya digunakan karung-karung yang dicor semen. Karung-karung tersebut dengan nama grout bag. Pekerjaan itu semuanya ditangani oleh ROV. Ada juga istilah touch down untuk ujung-ujung pipa yang menempel atau menyentuh bukit diantara free span.

 

ROV tidak saja melakukan pekerjaan tersebut diatas, tetapi alat ini digunakan untuk memutar valve atau stop kran yang menghubungkan jaringan pipa dengan platform atau anjungan. Ada banyak ball-valve (BV) yang diputar dan ditutup atau dikenal dengan istilah exercise.

 

ROV seolah mata dan tangan kita, seolah-olah kita menyelam didasar laut. Kita seakan-akan menyelam dan bekerja dibawah laut. Pekerjaan ini mengasyikan, tetapi kalau datang arus kuat didasar laut dan juga di permukaan laut, hal itulah yang “kurang” mengasyikan. Kapal akan goyang, terkadang peralatan seperti laptop, digital camera dan alat penunjang lainnya terlempar dari meja kerja kita. Inilah tantangan bekerja di laut. Para oceanographer selalu membuat prediksi-prediksi harian tentang gelombang, cuaca, arah angin, tinggi gelombang laut, wave, petir, hujan dan lain sebagainya yang dapat diperoleh informasinya dari platform dan stasiun terdekat, serta Radar di kapal survey. Bila kita amati di radar kapal survey, maka akan termonitor kapal-kapal disekitar kita, dan pergerakan awan dan hujan disekitar kita dengan radius yang cukup besar. Tentu saja radar dapat mendeteksi kecepatan awan dan hujan berikut arahnya.

 

Awak kapal (vessel-crew) oceanographer, surveyor (geodesy) dan teknisi selalu melakukan latihan keselamatan kerja yang kita sebut sebagai safety drill. Safety drill adalah sangat penting, mengingat kita bekerja dilaut lepas yang rawan kecelakaan kerja.

 

Kegiatan survey dan rektifikasi pipa gas dan jaringannya yang menghubungkan antara platform atau anjungan yang berada di lepas pantai perairan barat Natuna atau dikenal dengan west Natuna Sea ini memerlukankan waktu sekitar 6 bulan, yang diselingi dengan pengambilan bahan-bahan seperti semen, batu kerikil dan makanan dari Batam. Sedangkan kapal survey berangkat dari Singapura. Inilah ironisnya, kapal-kapal survey itu selalu berlabuh di Singapura, tidak mau di Batam, karena alasan birokrasi di Indonesia yang terlalu rumit (njelimet dan bikin bingung), juga terlalu banyak pungutan liar atau setengah liar. Padahal dari sisi teknis pelabuhan di Batam sudah memadai untuk digunakan sebagai pelabuhan kapal-kapal survey.

 

Teknologi tepat guna bawah laut adalah dengan menebar atau menghampar kerikil didasar laut yang lembek atau dikenal dengan soft sea bad. Pada tanah yang lembek itu biasanya grout bag ambles dan posisinya menjadi tidak tegak, bahkan cenderung miring akibat adanya kekuatan arus bawah laut. Problem ini acapkali terjadi di periran Natuna Barat bagian utara. Hal ini berbeda dengan di bagian selatan yang dekat Batam dan Singapura yang sea bad nya cukup stabil. Mengapa hal ini terjadi? Ini yang masih harus dijawab oleh para oceanographer.

 

Banyak hal yang ditemukan pada saat survey seperti halnya fish-net yaitu jaring-jaring ikan yang menyangkut di pipa gas, marine grout (tumbuhan laut) yang menempel di pipa. ROV takut terhadap fish net ini, karena bisa merusak thruster atau baling-baling penggerak ROV. Kalau nyangkut ROV akan mati dan harus ditarik keatas. Ini sangat berat, karena ROV work class yang digunakan beratnya lebih dari 1 ton, tetapi bisa dikerek dengan alat katrol yang dilengkapi dengan mesin pengkerek ROV.

 

Beberapa aplikasi lain teknologi ROV di dunia pengeboran minyak dan gas lepas pantai adalah antara lain sebagai berikut:

1.   Menyertai para penyelam, untuk meyakinkan bahwa para penyelam dalam keadaan aman dan siap memberi bantuan

2.   Inspeksi atau pemeriksaan anjungan atau kilang minyak, dari mulai pemeriksaan visual sampai menggunakan alat tertentu untuk memonitor efek dari korosi, kesalahan konstruksi, mencari lokasi keretakan, estimasi biologi untuk pencemaran

3.   Inspeksi Jalur pipa, mengikuti jalur pipa bawah laut untuk mengecek adanya kebocoran, menentukan perkiraan umur pipa dan meyakinkan bila instalasi pipa dalam kondisi baik.

4.   Survei, baik visual maupun survei menggunakan gelombang suara, diperlukan sebelum pemasangan pipa, kabel, dan fasilitas bawah laut lainnya.

5.   Pendukung pengeboran dan konstruksi, dari inspeksi visual, memonitor pelaksanaan pengeboran dan konstruksi, sampai melakukan perbaikan-perbaikan jika diperlukan.

6.   Memindahkan benda-benda berbahaya di dasar laut, terutama di sekitar fasilitas bangunan seperti kilang minyak. ROV terbukti lebih bisa menekan biaya untuk menjaga daerah tersebut tetap aman dan bersih.

7.   Pada pekerjaan pemotongan bawah air (underwater thermal cutting).

8.   Menutup Kebocoran Sumur Minyak Bawah Laut.

 

4.2. Bidang Telekomunikasi.

Pemanfaatan ROV dalam bidang telekomunikasi adalah guna mendukung pekerjaan pemasangan kabel telekomunikasi bawah laut, selain memonitor, juga menjaga agar pemasangan kabel sesuai dengan prosedur sehingga terlindung dari gangguan nelayan (kapal trawler) dan kemungkinan kapal membuang jangkar.

 

4.3. Bidang Riset.

Sebagaimana disebutkan diawal pendahuluan di atas, salah satunya menginvestigasi perubahan-perubahan yang terjadi di dasar laut pasca gempa dan tsunami. Selain itu adalah guna mendukung dalam pemetaan lokasi berbagai harta karun terpendam di perairan laut dalam Indonesia, keanekaragaman hayati, termasuk bebarapa species ikan langka yang disinyalir berada di perairan Indonesia dan “Deep Ocean Water” (perairan laut-dalam)

 

Melalui survei dan studi dengan menggunakan alat ROV tidak berhenti sebatas pengetahuan, melainkan kearah industri seperti pengembangan air dalam kemasan dengan menggunakan bahan baku air laut-dalam. Di Jepang misalnya untuk air kemasan seperti itu sudah dikembangkan.

 

Air mineral itu dapat dikembangkan sebagai sumber air yang sehat dan lebih baik kualitasnya daripada air mineral dari sumber air di daratan. Bahkan saat ini, seorang insinyur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya asli Nganjuk Jawa Timur telah menemukan bahan bakar untuk kendaraan bermotor dari air laut dalam yang dinamakannya blue energy.

 

Uji coba kendaraan berbahan bakar tersebut telah dilakukan mulai dari Jakarta menuju Nusa Dua, Bali, tempat digelarnya United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) 2007 dengan tanpa ada masalah. Selain hemat dan mampu meningkatkan performa kendaraan, keunggulan bahan bakar tersebut adalah rendahnya emisi karbon yang dihasilkan. Ini sesuai dengan pesan UNFCCC yang digelar 3-14 Desember 2007. Untuk memakai blue energy, mesin tidak perlu dimodifikasi. Bahkan, ada yang sebelumnya menggunakan solar dan di tengah jalan langsung diganti 100 persen dengan blue energy, dan hasilnya mobilnya malah semakin tidak ada getaran. Penelitian teknologi blue energy ini telah mulai ditelitinya sejak 2001.

Untuk mendapatkan air laut dalam tersebut dengan menggunakan robot ROV, karena pada sampel air laut yang sudah diambil dalam tiga posisi–kedalaman kurang dari 150 meter, 300 meter, dan lebih dari 350 meter–terlihat adanya potensi pengembangan air mineral.

 

Selain mencari potensi laut dalam, robot ROV juga bisa digunakan untuk mendeteksi kemungkinan adanya coelacanth, ikan purba laut dalam yang hidup 400 juta tahun yang lalu. Jenis ikan ini dianggap sebagai fossil hidup, karena diketahui hidup sejak 400 juta tahun lalu, jauh sebelum masa dinosaurus, dan dianggap telah punah sekitar 80 juta tahun lalu. Para peneliti percaya bahwa anatomi ikan ini tidak banyak berubah sejak zaman purba itu.

 

Temuan pertama akan ikan purba coelacanth ini terjadi di tahun 1938 di pantai Afrika Selatan, sekitar Muara Chalumna,  yang kemudian segera menggemparkan dunia. Di Indonesia, ikan coelacanth ini pertama diamati di pasar ikan Manado oleh Mark Erdmann di tahun 1997. Tahun 1998 baru ditemukan satu spesimen dari lokasi yang sama yang kini disimpan di Museum Zoologi LIPI di Cibinong, Ikan ini menjadi objek penelitian para ilmuwan dari berbagai negara, dan disepakati bahwa jenis ikan yang dijumpai di Manado ini berbeda dari yang ada di Comoro, dan diberi nama Latimeria menadoensis, Jenis ikan ini telah dilindungi undang-undang. Pada 1999, salah satu jenis coelacanth telah ditemukan di Sulawesi Utara dan diberi nama Latimeria menadoensis. Pada Mei 2007 seekor ikan purba coelacanth yang oleh penduduk setempat disebut “ikan raja laut” kembali tertangkap secara tak sengaja oleh nelayan di perairan dekat Manado.

 

Pada tahun 1999 peneliti Jerman dari Max Planck Institute berhasil merekam dengan video ikan-ikan purba ini di lingkungannya di dalam gua-gua laut-dalam dengan menggunakan kapal selam mini (submersible). Peneliti Jepang dari Aquamarine Fukushima menyusul kemudian di tahun 2006 dengan membawa ROV berhasil membuat rekaman video ikan-ikan ini dari kedalaman sekitar 150 meter.

 

Bahkan telah diisiapkan sebuah rencana besar bagi program konservasi Coelacanth dengan menyiapkan sebuah akuarium mobile yang bisa ditenggelamkan pada kedalaman tertentu, dimana alat ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari teknologi ROV.

 

National Geographic dalam ekspedisinya pada tahun 2005, di kawasan perairan Laut Banda dan sekitarnya di Kepulauan Maluku juga dengan dukungan penuh dari teknologi ROV, yang saait itu sudah mulai populer dipakai untuk melakukan pekerjaan di bawah laut. Dalam ekspedisi ini ROV akan membuat transek bawah air, menjadi stasiun apung, mengumpulkan sampel, dan menyertai anggota tim untuk mengumpulkan ikan dan invertebrata bawah air, di kawasan yang belum pernah dieksplorasi. Selain itu juga melakukan survey vertikal kolom air laut, palung laut di kawasan perairan tersebut dan mengumpulkan data distribusi biota laut, keanekaragaman hayati, dan kondisi lingkungan invertebrata di perairan berkedalaman sedang dan dalam, termasuk juga data karakterisitik habitat dan ekosistemnya.

 

Di belahan dunia lain, saat ini di laut dalam Antartika sebuah robot robot dengan remote kontrol (ROV) dari Inggris akan diuji coba di sana, hingga pada kedalaman 6,5 kilometer ke bawah laut. Dan tugas pertamanya adalah menemani para peneliti laut dalam untuk urusan ilmiah dan melihat dasar laut dalam di Antartika.

 

Dari analisis yang mereka punyai kini, dasar laut yang ada di Antartika sekarang merupakan sedimen, yang berasal dari pesisir Margarita. Pesisir tersebut sendiri merupakan daratan es masif yang diperkirakan telah ada semenjak 20.000 tahun lalu.

 

Selain mencari awal dari sedimen glasial, penelitian lain juga dilakukan dalam ekspedisi tersebut. Salah satunya merupakan penelitian mengenai mahluk laut dalam dan untuk mempelajari bagaimana hewan laut tersebut beradaptasi dengan hawa dingin lautan dan tumbuh makin ke dalam laut. Dengan ROV tersebut, diyakini bisa melihat bagaimana itu semua bisa terjadi. Selain juga mencari bukti mengapa satu mahluk dapat hidup makin ke dalam laut, sementara yang lainnya tidak.

 

Dalam lautan Antartika kini terdapat mahluk laut seperti cumi-cumi raksasa, ikan berlampu, ubur-ubur, dan kehidupan dalam laut lain yang pernah ada di muka bumi.

 

4.4. Operasi SAR

Saat ini, teknologi ini telah diaplikasikan pada Kapal Riset Baruna Jaya IV milik BPPT. Teknologi survei kelautan yang dimilik kapal ini menggunakan dengan peralatan-peralatan utama: Color (Dome) Sonar, Multibeam Echosounder, Side Scan Sonar, dan Remotely Operated Vehicle (ROV).

 

Color (Dome) Sonar mampu melakukan penjejakan ke segala arah (omni directional) terhadap obyek-obyek di bawah permukaan laut pada jarak optimal hingga 2.000 meter. Multibeam System mampu melakukan penjejakan dan pemetaan 3 (tiga) dimensi secara terinci terhadap dasar laut dan oyek-obyek di laut. Side Scan Sonar dapat menjejak obyek ke arah samping hingga jarak optimal sejauh 400 meter ke arah kiri dan kanan. ROV adalah kamera yang dapat memantau obyek hingga kedalaman 100 meter di bawah muka laut.

 

K/R Baruna Jaya IV pernah melakukan operasi SAR di perairan Laut Jawa di lokasi tenggelamnya KM Senopati Nusantara dan ke lokasi kemungkinan Adam Air KI 574 jatuh.

 

4. Kesimpulan.

Teknologi ROV dalam aplikasinya ternyata telah menghasilkan efisiensim kinerja bila dibandingkan jika secara konvensional, bahkan yang teknologi konvensional tidak mampu melakukannya. Dengan ROV, banyak sekali penemuan-penemuan besar terjadi. Diantaranya adalah riset air mineral laut dalam (Deep Ocean Water), sebagai bahan dasar obat-obatan dan sekaligus juga bisa dikembangkan untuk energi kendaraan bermotor.

→ 1 CommentCategories: kelautan

(SULITKAH) INOVASI ENERGI KHAS INDONESIA?

May 12, 2008 · 1 Comment

Belakangan ini, kita disuguhi oleh pemberitaan tentang pemanasan global dan ancaman hujan asam sebagai akibat dari semakin menumpuknya zat / partikel pencemar udara, yaitu CO2, SO2, NO2 yang berasal dari pembakaran dan penggunaan energi fosil.

 

Berbagai upaya dijalankan, berbagai program digalakkan dan kampanye terus didengungkan oleh komunitas global: “STOP GLOBAL WARMING!”

 

Sementara di sisi lain, penulis melihat bahwa, pemanasan global sepertinya akan terus meningkat, demikian juga ancaman hujan asam. Hal ini didasarkan atas analisis dari World Oil Market bahwa, pertama, kebutuhan energi dunia diproyeksikan akan meningkat sekitar 60% antara tahun 2002 sampai dengan tahun 2030 dengan rata-rata pertumbuhan pertahun 1,7%. Kebutuhan akan mencapai 16,5 miliar toe (tonnes of oil eqivalent) bila dibandingkan dengan tahun 2002 sebesar 10,3 miliar toe. Minyak bumi akan tetap menjadi energi yang dominan digunakan. Komposisi kebutuhan minyak bumi mengalami peningkatan dari 80% pada tahun 2002 menjadi 82% pada tahun 2030. Sementara itu sumber energi terbarukan kondisinya tetap pada kisaran 14% dari total kebutuhan energi.

 

Kedua, minyak bumi akan tetap mendominasi penggunaan energi, sekitar 85% dari penggunaan energi dunia. Minyak akan kembali menjadi satu-satunya sumber penggunaan energi paling besar. Kebutuhan akan minyak diproyeksikan tumbuh 1,6% per tahun 77mb/d pada tahun 2002, 90 mb/d pada tahun 2010 dan menjadi 121 mb/d pada tahun 2030. Penggunaan minyak akan meningkat khususnya pada sektor transportasi, diperkirakan 2/3 (60%) dari total penggunaan minyak. Sektor transportasi akan meggunakan 54% dari minyak dunia pada tahun 2030 dibandingkan dengan sekarang 47% dan tahun 1971 yang hanya 33%. Minyak akan sedikit menghadapi kompetisi dengan bahan bakar lain yang digunakan pada transportasi darat, udara dan laut. Pada negara-negara OECD penggunaan minyak pada sektor perumahan dan jasa mengalami penurunan yang tajam. Di negara-negara non-OECD sektor transportasi akan menjadi pendorong utama penggunaan minyak disamping itu juga sektor industri, perumahan dan jasa akan tetap mejadi pemicu peningkatan kebutuhan minyak. Di beberapa negara berkembang, produk minyak akan tetap menjadi sumber utama energi modern untuk kepentingan memasak, pemanas khususnya di wilayah perdesaan,

 

Ketiga, kebutuhan utama gas alam akan tumbuh pada angka 2,3% per tahun selama periode proyeksi hingga 2030. Pada tahun 2030, konsumsi gas akan menjadi 90% lebih tinggi dari sekarang dan gas akan mengambil alih batubara sebagai sumber energi terbesar kedua.  Komposisi  penggunaan gas akan tumbuh dari 21% pada tahun 2002 menjadi 25% pada tahun 2030. Sektor listrik akan mengkosumsi 60% dari peningkatan kebutuhan gas, dengan komposisi peningkatan pasar gas 36% pada tahun 2002 menjadi 47% pada tahun 2030. Sektor kelistrikan akan menjadi pendorong utama kebutuhan gas di seluruh dunia. Tren ini akan mejadi nyata di negara-negara berkembang yang kebutuhan listriknya akan tumbuh dengan pesat.

 

Keempat, penggunaan batubara diseluruh dunia diproyeksikan akan meningkat 1,5% per tahun antara 2002 hingga 2030. Pada tahun 2030 kebutuhan batubara hanya sekitar 7 miliar ton. Komposisi batubara terhadap penggunan energi sedikit turun dari 23% menjadi 22%. Cina dan India merupakan dua negara yang cukup besar untuk disuplai. Lebih dari  2/3 peningkatan penggunan batubara dunia berasal dari Cina dan India. Sektor kelistrikan akan menyerap sangat banyak terhadap peningkatan kebutuhan batubara. Selanjutnya batubara akan kehilangan pasar pada pembangkit listrik di seluruh negara-negara OECD dan di beberapa negara-negara berkembang.

 

Dari keempat hal di atas, sangat jelas bahwa upaya menurunkan bahan pencemaran udara dari penggunaan energi fosil sangat terhalang akan kebutuhan mutlak sumber energi tersebut bagi pembangunan, khususnya di negara-negar berkembang ke depan. Hal ini sangat nyata karena memang energi ini sangat kompetitif dan saat ini paling ”mudah” dan ”murah” memproduksinya jika dibandingkan dengan energi lain misal nuklir, matahari, angin maupun tenaga gelombang dan arus laut yang secara ketersediaan khususnya di Indonesia cukup berlimpah sepanjang tahun.

 

Maka sebenarnya Indonesia punya peluang yang besar dalam menciptakan inovasi energi yang bisa menjadi ciri khas bangsa sebagai negara tropis yang panas sepanjang tahun serta ¾ wilayahnya adalah lautan. Sehingga kita bisa memilih dan menentukan tren energi kita sendiri seiring menyusutnya cadangan dan produksi minyak mentah kita. Inilah yang harus menjadi arus utama pemikiran dan riset yang mendalam serta tentunya dukungan pembiayaan yang tidak sedikit.

 

Disinilah political will pemerintah dipertaruhkan demi kemandirian energi kita. Seyogyanya, pilihan tren energi khas (ala) Indonesia ke depan harus dapat menjamin 2 (dua) hal yaitu upaya mejamin kemandirian energi nasional dan upaya penyelamatan lingkungan tanpa menghalangi proses pembangunan. Smoga.

→ 1 CommentCategories: energi

KEPUNAHAN MASSAL ANCAM JAWA TIMUR…

April 21, 2008 · 1 Comment

Fenomena semburan lumpur panas (hot mud flow) di Sidoarjo telah menimbulkan dampak yang luas yang tidak diperkirakan (intangible) sebelumnya. Pemblokiran jalan tol, jalan arteri, dan rel kereta api oleh ribuan warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) 1 di kawasan Porong Sidoarjo selama 2 hari beberapa waktu yang lalu, yang mengakibatkan ekonomi jawa timur terguncang, merupakan salah satu contoh paling aktual. Sebagian pengamat memperkirakan kerugian perokonomian Jatim akibat blokade korban lumpur tersebut mencapai 2 trilyun (PDRB Jatim per hari sekitar 1 trilyun), atau setara dengan seperempat kerugian banjir Jakarta beberapa waktu yang lalu. Dampak ini kedepan sulit diperkirakan dan dihitung karena menyangkut aspek yang lebih luas (sosial dan politik, termasuk psikologi). Sedangkan dampak langsung yang terkait dengan lumpur Sidoarjo adalah terendamnya rumah warga termasuk terendamnya jalan tol Porong Gempol di sekitar pusat luberan lumpur. Dampak tidak langsung adalah dampak yang terkait dengan matinya atau terganggunya perekonomian akibat luberan lumpur tersebut, seperti hilangnya mata pencaharian penduduk karena sawahnya terendam lumpur, hilangnya pekerjaan penduduk akibat pabriknya terendam, terganggunya aktivitas distribusi barang menuju kota Surabaya akibat jalan tol ditutup dan sebagainya.Itulah beberapa dampak lingkungan sosial yang diakibatkan oleh kecerobohan dengan dalih efektifitas dan ekonomis dari kegiatan eksplorasi pertambangan migas.

 

Terlepas dari prokontra yang masih mengemuka -apakah ini kesalahan Lapindo atau bencana alam, yang sesegera mungkin harus dilakukan adalah mau dikemanakan buangan lumpur ini. Pengelolaan buangan Lumpur seyogyanya dilakukan lebih holistik dan komprehensif dengan mempertimbangkan dampak-dampak tersebut di atas. Pengelolaan ini mulai saat ini dimana lumpur masih terus mengalir, -belum bisa diprediksi kapan berakhir- dan pasca semburan lumpur, -jika kedepan semburan berhenti. Namun demikian yang paling utama adalah bagaimana menangai dampak sosial, menyelamatkan manusia dari bencana ini. Inilah tujuan utama dari pengelolaan semburan lumpur sidoarjo ini.

 

Pengelolaan secara holistik tetap mempertimbangkan kejadian dan kondisi yang selalu berkembang dan berubah setiap saat. Seperti pendapat beberapa pakar, substansi dari penanganan LUSI selama ini haruslah mencerminkan, pertama, bahwa tujuan utama setiap tindakan yang diambil adalah menyelamatkan manusia dari kejadian ini; kedua, pemetaan luasan genangan lumpur, (bisa saja daerah antara sungai Porong dan Sungai Kali Mas) untuk mengevakuasi semua warga masyarakat dan infrastruktur keluar dari daerah yang dipetakan akan tergenang lumpur; ketiga, kejadian munculnya kombinasi mud volkano-yydrothermal (tanpa melihat apa yang menyebabkannya) ini baru pertama kali didunia. Sehingga tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki pengalaman dalam hal menanganinya.

 

Keempat, semua tindakan baik menutup maupun mencegah dampak (permukaan) memang memerlukan penelitian. Tetapi keduanya diburu-buru dan saling berkejaran. Meneliti bisa dilakukan sambil menangani. Hanya yang harus diperhatikan adalah setiap penanganan harus didasari alasan ilmiah yang tepat. Apapun alasannya harus ada dan dapat dijelaskan secara terbuka; kelima, Proses ini sangat dinamis, gejala-gejala di awal kejadian, dimasa transisi (minggu-minggu awal), serta kondisi saat ini sudah sangat berbeda. Misal, jumlah lubang semburan pada waktu awal, ukuran diameter lubang yg berkembang, volume dan jenis material yang keluar dari dalam lubang , kondisi bawah permukaan (suhu, tekanan, rekahan) dan lain-lain. Termasuk pula kejadian lain adalah munculnya lokasi semburan baru di rumah warga sekitar lokasi semburan utama; keenam,  Pelibatan semua stakeholder, eksekutif (pemerinta pusat dan daerah), legislatif, perusahaan, tokoh masyarakat, NGO, ahli/akademisi, dan masyarakat sekitar semburan lumpur sebagai objek sekaligus subjek (dari berbagai sumber)

 

LUSI (lumpur sidoarjo) yang terdiri dari 30% padatan dan 70% air koloid memang membutuhkan pengelolaan yang spesifik. Padatan yang 30% ini sudah mengendap dan tidak akan bisa mengalir. Alternatif pembuangan lumpur jika akan dibuang ke laut harus diangkut dengan mobil, misalnya disedot yang akan tersedot hanya yang dekat dengan sedotannya saja. Jika dialirkan melalui ke kali Porong maka akan terjadi sedimentasi DAS. Saat ini kali Porong debitnya sangat sedikit, banyak kelokan sehingga endapan bisa menggunung. Akibatnya adalah sangat fatal, terutama bagi Surabaya dan Mojokerto, karena kali Porong ini disiapkan untuk sodetan banjir Sungai Brantas. Surabaya, Mojokerto, bahkan Sidoarjo sendiri hingga Pasuruan harus bersiap-siap menerima limpasan banjir Sungai Brantas.

 

Akibat lainnya jika dialirkan kelaut, dalam hal ini selat Madura, aliran permukaan akan membuat sedimentasi dan sangat menggangu jalur pelayaran. Jika dibuang kelaut bisa memanfaatkan pipa dengan kedalamaan di bawah daerah “thermoklin” agar Lumpur tidak naik ke permukaan, karena jika ini terjadi, air lumpur akan membuat selat madura menjadi keruh. Selat madura saat ini menjadi menjadi tumpuan banyak orang untuk mata pencaharian, bahkan sudah sering terjadi carok di tengah-tengah selat antara warga Pasuruan-Probolinggo dengan nelayan Madura gara-gara merebutkan wilayah tangkapan ikan. Yang menarik juga di selat Madura adalah karena adanya ikan “anchofish” yang disukai ikan hiu tutul yang akan masuk. Indikasinya adalah beberapa kali ikan hiu tutul telah ditangkap nelayan pantai Kenjeran. Sehingga dalam pembuangan lumpur ini harus lebih bijak mempertimbangkan fator sosial ini dan harus selalu konsultasi dengan pihak dan warga masyarakat daerah yang akan terkena dampak.

 

Kemungkinan terbaik, dari yang terburuk, adalah dibuang ke tambak-tambak di pantai sebelah timur Sidoarjo sehingga bisa dijadikan reklamasi pantai. Saat ini dalam keadaan darurat, sehingga harus segera diambil tindakan pengelolaan. Apapun pilihan pengelolaan pembuangan lumpur, apakah diendapkan di kali Porong, di laut ataukah di tambak-tambak, harus tetap mempertimbangkan daya dukung lokasi buangan lumpur agar keberlanjutan fungsi-fungsi lingkungan yang semula ada baik di DAS, laut/selat Madura maupun tambak masyarakat tetap terjamin dengan keberadaan pengelolaan lumpur tersebut, walaupun ada kontroversi nantinya.

 

”Lusi” adalah pelajaran berharga bagi industri pertambangan migas nasional dan di belahan bumi manapun. Bahwa ada keterkaitan (interaction) yang erat antara kegiatan eksplorasi migas dengan dampak lingkungan yang harus diantisipasi dan dikelola. Keterkaitan ini adalah dalam setiap proses eksplorasi harus selalu memperhitungkan dampak bagi lingkungan hidup sekitar eksplorasi dengan setiap pilian aplikasi teknologi eksplorasi.Selain itu setiap kegiatan eksplorasi harus mengedepankan harmonisasi kegiatannya dengan faktor-faktor lingkungan dan sosial sekitar lokasi eksplorasi. Terlebih eksplorasi sumur Lapindo berada dekat -di tengah-tengah- pemukiman. Sehingga bisa saja kegiatan ini merusak suasana lingkungan sekitar. Dan dengan adanya kasus semburan ini, maka rusaklah harmoni tersebut. Karena tidak bisa disangkal bahwa adanya saling ketergantungan (inter-dependention) antara kegiatan eksplorasi dengan kondisi lingkungan dan sosial secara timbal balik. Ketergantungan ini adalah bagaimana tetap terjaminnya keberlangsungan proses eksplorasi jika kondisi sosial-lingkungan sekitar lokasi eksplorasi juga mendapatkan manfaat yang sama. Misalkan dengan terbukanya peluang usaha baru dengan keberadaan ekpolrasi migas ini. Selain itu, adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan pengetahan masyarakat akan pentingnya migas bagi sumber devisa negara. Pihak industri sangat berkepentingan dengan al ini dan sangat tergantung bagaimna persepsi masyarakat akan kegiatan eksplorasi ini. Kedepan ketergantungan ini harus diatasi, dengan adanya kasus ini maka dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi yang semakin meningkat, harus ada diversifikasi energi terbaharukan. Harus ada keragaman (diversity) sumber energi primer selain migas. Misal dengan mengoptimalkan energi matahari, angin, arus laut yang nyata-nyata adalah sumber kekayaan energi tak terbatas Indonesia.

 

Terakhir, yang lebih penting segera dilakukan sekarang adalah, penyelamatan ribuan jiwa manusia dan harta bendanya, yang kemungkinan terburuk adalah seluruh daerah antara delta Sungai Porong dan Kali Mas, dikarenakan telah terjadinya rrekahan baru dan semburan baru sampai dengan radius beberapa kilometer dari pusat semburan Lumpur. Atau jika tidak, pasti kita akan saksikan kembali aliran lumpur akan terus mencari lokasi endapan baru di desa-desa sekitar pusat semburan lumpur. Sidoarjo telah berkubang lumpur kini. Masih tetap saja kita berdebat ini salah siapa, dosa siapa, bencanakah atau kesalahan Lapindo?(coba dengarkan kembali syairnya lagu Ebiet G Ade). Ataukah kita tunggu saja dan saksikan bersama peristiwa kepunahan massal (mass extinction). Teori ini mungkin saja dapat terjadi dengan adanya sebuah teori “Impact from the Deep”, kepunahan masal yang datang dari Bumi sendiri. Dimana teori diilhami oleh judul sebuah film “Deep Impact” yang menceritakan bagaimana sebuah komet/asteroid bisa memusnahkan kehidupan di Bumi. Wallahualam.

→ 1 CommentCategories: bencana

BANJIR DAN MATINYA KESADARAN EKOLOGIS

April 21, 2008 · No Comments

“Tidak ada daerah di Indonesia yang bebas banjir”. Kalimat ini tentunya berupa sindiran bagamana banjir telah menjadi langganan setiap daerah di Indoneisa tiap kali musim hujan datang. Banjir telah menjadi adalah ibu dari bencana alam Indonesia akhir-akhir ini. Kerugian secara finansial yang diakibatkan banjir bahakan bisa menguras anggaran pemerintah daerah dalam satu tahun. Jakarta menanggung kerugian ekonomi setiap kali banjir awal tahun dengan taksiran yang melebihi angka 7 triliun rupiah, sedang Jawa Tengah - Jawa Timur akibat amuk Bengawan Solo awal 2008 telah menaksir angka hampir 12 trilyun rupiah. Atau saat ini banjir yang tengah mengamuk di pantai utara Jawa Tengah yang ditaksir menyebabkan kerugian finansial yanag besar pula karena sebagai urat  nadi transportasi lintas Jawa. Ada apa dibalik momok banjir ini sebenarnya?

 

Banyak pakar yang telah memaparkan keterkaitan antara banjir dengan degradasi fungsi lingkungan. Pertama, hilangnya kelestarian wilayah kawasan penyimpan air daerah hilir. Situ, danau, rawa dan hutan bakau, berperan penting sebagai penyimpan air yang mengurangi volume banjir. Kelestarian kawasan ini merupakan keharusan. Kasus Jakarta misalnya, terus kehilangan kawasan lahan basah demi kawasan real estate, perindustrian, lapangan golf dan sebagainya. Hutan bakau Angke Kapuk, pada 1980-an masih menutupi areal seluas 1.500-an hektare, merosot tajam menjadi 327 hektare saja pada tahun 1993, dan kini tersisa 120 hektar saja.

 

Kedua, konversi besar-besaran ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air di daerah hulu dan sepanjang daeral aliran sungai (DAS). Penghijauan dan pembangunan berwawasan lingkungan hanya sebagai isu usang yang berulang diusung pemerintah daerah, namun dalam pelaksanaannya justru sebaliknya pembabatan hutan dan konversi pemukiman atau villa di hulu. Misalnya daerah Puncak dan Cianjur untuk kasus DAS Ciliwung.

 

Dua hal di atas menunjukkan bahawa kita telah lalai da dzalim terhadap lingkungan, penyokong dari bumi tempat kita hidup. Paradigma pembangunan telah meninggalkan dan tidak lagi mengenal nilai-nilai dan keterkaitan antara 3 (tiga) subsistem kehidupan; ekosistem alami (sumber daya alam dan lingkungan hidup), sistim produksi-distribusi-konsumsi, dan sistim sosial-budaya. Pendekatan pembangunan tidak lagi berazaskan ekosistem (ekologi, ekonomi dan sosial). Dengan dalih pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan lahan yang terus meningkat, pola pembangunan, -hampir di semua daerah, cenderung mengeksploitasi sumber daya alam secara intensif dan membabi buta. Hutan dibabat, dibuka tambang dimana-mana, dijadikan permukiman, akibatnya adalah bencana ekologis; banjir, tanah longsor di musim hujan dan kekeringan serta hilangnya cadangan air di musim kemarau.

 

Misi desentralisasi yang memaksimalkan PAD yang disokong oleh “sesat” perencanaan pembanganan telah menjadi noda dalam pelaksanaan otonomi daerah. Sesat perencanaan pembanguan tersebut dilakukan dengan cara mengeksploitasi SDA yang sangat intensif dan menutup mata atas dampak yang diakibatnya, bahkan kerugian finansial dan moril yang ditimbulkan oleh dampak tersebut tidak menjadi diskursus yang memadai bahkan cenderung hilang atau keluar dari pola pikir pengambil kebijakan. “Sesat pikir” pengambil kebijakan ini mengindikasikan matinya “kesadaran ekologis” para pengambil kebijakan pembangunan. Jika “kesadaran ekologis” pengambil kebijakan pembangunan tidak secepatnya tumbuh, -bahwa rusaknya dan menurunnya kelestarian fungsi lingkungan berpengaruh besar terhadap bencana dimana-mana, maka “kepunahan massal” yang akan kita saksikan bersama.

 

“Kesadaran ekologis”, dalam hubungannya dengan mitigasi banjir dalam kasus ini, dapat diaplikasikan dalam merumuskan strategi pengelolaan lingkungan DAS. Strategi ini mencakup interaksi dua aspek, yaitu aspek kewilayah regional dan aspek sektoral. Interaksi kewilayahan regional, dimaksudkan agar pengelolaan DAS senantiasa diupayakan untuk mendayagunakan aspek ruang di daerah bagian hulu dan hilir. DAS Ciliwung misalnya tidak hanya wilayah Jakarta tapi juga kawasan Bogor, Puncak dan Cianjur Jawa Barat. Atau DAS Bengawan Solo yang harus mencakup Bojonegoro, Ngawi dan Lamongan (Jawa Timur), -yang dalam amuk Bengawan Solo terjebak banjir bandang terparah, sampai wilayah Solo, Wonogiri, Sukoharjo (Jawa Tengah).

 

DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah konservasi, sementara hilir merupakan daerah pemanfaatan. DAS bagian hulu mempunyai arti penting terutama dari segi perlindungan fungsi tata air, karena itu setiap terjadinya kegiatan di daerah hulu akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transport sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran airnya. Interaksi dan ketergantungan hulu-hilir inilah yang harus masuk dalam pola kikir pengambil kebijakan.

 

Aspek kedua adalah aspek sektoral, dimana diupayakan bahwa setiap kegiatan atau  program yang mempunyai persamaan ciri-ciri serta tujuannya diidentifikasikan dalam sektor-sektor apa saja yang berinteraksi, antara lain sektor parwisata, pertanian, perikanan, penyedian air minum, transportasi, pemukiman dan lain-lain. Interaksi ke dua aspek, regional dan sektoral, inilah yang disebut dengan pola pendekatan ekosistem. Pola pendekatan ini dapat meminimalkan potensi konflik kepentingan dalam penggunaan lahan, karena mulai dari tahap perencanaan sampai dengan implementasi telah melibatkan semua stakeholders. Disamping itu dalam pores pengawasan dan evaluasi, setiap kesalahan atau ketidakkonsistenan pemanfaatan DAS dapat dipantau oleh semua stakeholder.

 

Dari interaksi dua aspek tersebut, perencanaan DAS akan mempunyai manfaat ganda, sebagai alat mitigasi banjir dengan mengurangi debit banjir (run off), menjadi sumber resapan air tanah, dan sarana wisata. Dengan manfaat ini, berarti dukungan ketersedian air bersih dan daerah bebas banjir, bisa menjadi modal dan nilai tawar suatu daerah dalam menarik investor. Dan dengan dukungan “kesadaran ekologis” yang sama dalam perencanaan kebijakan pada sektor-sektor pembangunan lainnya, maka misi memaksimalkan pendapatan daerah mustahil tidak bisa diraih. Wallahualam.

→ No CommentsCategories: lingkungan

Sampah jadi Listrik; why not?

April 21, 2008 · No Comments

Secara umum pengelolaan sampah di perkotaan dilakukan melalui 3 tahapan kegiatan, yakni: pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir/pengolahan.  Tahapan kegiatan tersebut merupakan suatu sistem, sehingga masing-masing tahapan dapat disebut sebagai sub sistem.

 

Pada tahap pembuangan akhir/pengolahan, sampah akan mengalami pemrosesan baik secara fisik, kimia maupun biologis sedemikian hingga tuntas penyelesaian seluruh proses. Ada dua proses pembuangan akhir, yakni: open dumping (penimbunan secara terbuka) dan sanitary lanfill (pembuangan secara sehat). Pada sistem open dumping, sampah ditimbun di areal tertentu tanpa membutuhkan tanah penutup; sedangkan pada cara sanitary landfill, sampah ditimbun secara berselang-seling antara lapisan sampah dan lapisan tanah sebagai penutup. 

 

Sampah yang telah ditimbun pada tempat pembuangan akhir (TPA) dapat mengalami proses lanjutan. Teknologi yang digunakan dalam proses lanjutan yang umum digunakan adalah :

1.   Teknologi pembakaran (incinerator). Dengan cara ini dihasilkan produk samping berupa logam bekas (scrap) dan uap yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik. Keuntungan lainnya dari penggunaan alat ini adalah:

a)   Dapat mengurangi volume sampah ± 75% - 80% dari sumber sampah tanpa proses pemilahan,

b)   Abu atau terak dari sisa pembakaran cukup kering dan bebas dari pembusukan dan bisa langsung dapat dibawa ke tempat penimbunan pada lahan kosong, rawa ataupun daerah rendah sebagai bahan pengurug, dan

c)   Pada instalasi yang cukup besar dengan kapasitas ±300 ton/hari dapat dilengkapi dengan pembangkit listrik Sehingga energi listrik (±96.000 MWH/tahun) yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menekan biaya proses (Dinas Kebersihan DKI Jakarta).

2.   Teknologi komposting yang menghasilkan kompos untuk digunakan sebagai pupuk maupun penguat struktur tanah.

3.   Teknologi daur ulang yang dapat menghasilkan sampah potensial, seperti: kertas, plastik logam dan kaca/gelas.

 

Secara sederhana pelaksanaan pengelolaan sampah yang umum diterapkan di perkotaan, sebagai berikut :

 

Ternyata dalam sistem penanganan sampah sistem tersebut diatas timbul beberapa permasalahan, yakni :

1.      Dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari sumber sampah sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah belum dipilah-pilah sehingga walaupun akan dterapkan eknologi lanjutan berupa komposting maupun daur ulang perlu tenaga untuk pemilahan menurut jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan, dan hal ini akan memerlukan dana maupun menyita waktu.

2.      Pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah, diantaranya :

a.   Perlu lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir (TPA) sehingga hanya cocok bagi kota yang masih mempunyai banyak lahan yang tidak terpakai. Apalagi bila kota menjadi semakin bertambah jumlah penduduknya, maka sampah akan menjadi semakin bertambah baik jumlah dan jenisnya. Hal ini akan semakin bertambah juga luasan lahan bagi TPA. Apabila instalasi Incinerator yang ada tidak dapat mengimbangi jumlah sampah yang masuk jumlah timbunannya semakin lama semakin meningkat. Lalu dikhawatirkan akan timbul berbagai masalah sosial dan lingkungan, diantaranya :

-     Dapat menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri serta bibit penyakit lain;

-     Dapat menimbulkan bau tidak sedap yang dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan meter; dan

-     Dapat mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan.

b. Biaya operasional sangat tinggi bagi pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan lebih lanjut. Apalagi bila letak TPA jauh dan bukan di wilayah otonomi.

c.   Pembuangan sistem open dumping dapat menimbulkan beberapa dampak negatip terhadap lingkungan. Pada penimbunan dengan sistem anarobik landfill akan timbul leachate di dalam lapisan timbunan dan akan merembes ke dalam lapisan tanah di bawahnya. Leachate ini sangat merusak dan dapat menimbulkan bau tidak enak, selain itu dapat menjadi tempat pembiakan bibit penyakit seperti: lalat, tikus dan lainnya (Sidik, et al, 1985).

d.   Pembuangan dengan cara sanitary landfill, walaupun dapat mencegah timbulnya bau, penyakit dan lainnya, tetapi masih memungkinkan muncul masalah  lain yakni :

-.   Timbulnya gas yang dapat menyebabkan pencemaran udara. Gas-gas yang  mungkin dihasilkan adalah : methan, H2S, NH3 dan lainnya. Gas H2S dan NH3 walaupun jumlahnya sedikit, namun dapat menyebabkan bau yang tidak enak sehingga dapat merusak sistem pernafasan tanaman dan membuat tanaman kekurangan gas oksigen dan akhirnya mati.

-.   Pada proses penimbunan, sebaiknya sampah diolah terlebih dahulu dengan cara dihancurkan dengan tujuan untuk memperkecil volume sampah agar memudahkan pemampatan sampah. Untuk melakukan ini tentunya perlu tambahan pekerjaan yang berujung pada tambahan dana.

3.   Penggunaan incinerator dalam pengolahan sampah memiliki beberapa kelemahan, di antaranya :

-     Dihasilkan abu (± 15%) dan gas yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Selain itu gas yang dihasilkan dari pembakaran dengan menggunakan alat ini dapat mengandung gas pencemar berupa: Ox., SOx dan lain-lain yang dapat mengganggu kesehatan manusia;

-     Dapat menimbulkan air kotor saat proses pendinginan gas maupun proses pembersihan Incinerator dari abu maupun terak. Kualitas air kotor dari instalasi ini menyebabkan COD meningkat dan pH menurun;

-     Memerlukan biaya yang besar dalam menjalankan Incinerator. Untuk menangani sampah ± 800 ton/hari memerlukan investasi Rp. 60 milyar, sedangkan dari hasil penjualan listrik yang dihasilkanhanya Rp. 2,24 milyar/tahun;

-     Butuh keahlian tertentu dalam penggunan alat ini. Sebagai contoh pada penanganan sampah di Surabaya, tehnologi ini sudah digunakan sejak tahun 1990, namun tanpa didukung dengan kualitas sumber daya manusia yang memahami filosofi alat ini, akibatnya pada tahun kedua terjadi kerusakan. Hal ini tentu menambah beban dalam perolehan dana bagi perbaikannya. Belum lagi sampah yang akan menumpuk dengan tidak berfungsinya alat ini.

-     Penggunaan Incinerator ini tidak dapat berdiri sendiri dalam pemusnahan sampah, tetapi masih memerlukan landfill guna membuang sisa pembakaran;

4.   Belum maksimalnya usaha pemasaran bagi kompos yang dihasilkan dari proses pengomposan sampah kota;

5.   Belum maksimalnya upaya sistem daur ulang menjadi barang-barang yang bernilai ekonomi tinggi;

6.   Sulitnya mendapatkan tambahan biaya bagi peningkatan kesejahteraan petugas yang terlibat dalam penanganan sampah. Hal ini tentu akan berakibat pada kegairarahan kerja yang rendah dari para pengelola sampah.

 

Sehingga dalam kenyataannya teknologi incinerator ini mulai ditinggalkan. Ada teknologi dengan pemanfaatan biogas untuk pembangkit listrik. Di Jakarta sedang di ujicoba di daerah Cakung.

 

Teknologi terbaru datang juga dari Jepang, dengan nama teknologi plasma arc. Teknologi ini mengubah sampah menjadi energi dengan menggunakan teknologi plasma arc, sebuah “sentakan” listrik yang mengionisasi gas dalam sebuah bilik (chamber) dan menghasilkan temperatur lebih dari 16.000°C, setara dengan 3 kali panasnya permukaan matahari. Sebuah teknologi seharga USD 59 juta, yang untuk menutupi investasi yang besar itu diperlukan timbunan sampah yang melimpah.

 

Secara teori dalam masa depan, pembuangan sampah akan menjadi bisnis yang menguntungkan dan ramah lingkungan dengan mengubah sampah yang digaskan (gassified waste) menjadi energi. Di atas kertas, sampah padat perkotaan (SPP) mengandung sepertiga hingga setengah energi batubara pertonnya dan mampu untuk memasok energi dalam skala nasional. Pembangkit plasma Utashinai adalah satu-satunya fasilitas pendaur ulang SPP menjadi energi yang sudah beroperasi dan mampu untuk bertahan hidup sejak tahun 2002.

 

Beberapa perusahaan, yang berharap mampu meningkatkan kinerja yang sudah dihasilkan Jepang, saat ini juga tengah merancang fasilitas plasma arc mereka. Geoplasma, sebuah perusahaan yang berbasis di Atlanta bahkan sedang dalam tahap akhir perancangan sebuah pembangkit dengan ukuran yang 10 kali lebih besar daripada Utashinai yang akan dibangun di St Lucie, Florida. Jika rancangan ini selesai, maka pada tahun 2009 pembangkit ini akan mampu mengubah 2.700 ton sampah per hari menjadi energi listrik. Sementara itu Startech Environmental di Wilton, Connecticut mengumumkan kontraknya untuk membangun fasilitas serupa dengan kapasitas 180 ton per hari di Panama. Perusahaan lainnya yang saat ini masih dalam tahap negosiasi untuk pembangunan fasilitas serupa di Ottawa dan Barcelona adalah Plasco Energy Group di Ontario.

 

Plasma arc sendiri sebenarnya adalah sebuah teknologi lama, meskipun pemanfaatannya untuk pengolahan sampah dalam skala besar masih termasuk baru. Teknologi ini telah dikembangkan dan digunakan oleh NASA sejak tahun 60-an untuk mensimulasikan temperatur tinggi yang dialami pesawat ruang angkasa ketika memasuki atmosfer bumi. Semenjak perusahaan-perusahaan seperti Startech dan Westinghouse Plasma di Madison mengembangkan plasma arc pada tahun 90-an yang digunakan oleh Geoplasma untuk mengolah sampah, “obor” plasma (plasma torches) ini banyak digunakan untuk melumerkan sisa logam atau menghancurkan material yang berbahaya.

 

Obor ini dibuat dengan mengionisasi udara dalam bilik dengan sebuah powerful electric arc untuk membangkitkan plasma, yang selanjutnya digunakan untuk memanaskan SPP, arang (coke), dan batu kapur (limestone) dalam sebuah bilik hampa oksigen (oxygen-starved chamber). Dalam kondisi ini, obor plasma akan memanasi campuran tersebut hingga suhu di atas 1500°C untuk mem-vitrifikasi (vitrify: change into glass or a glass-like substance by applying heat) material anorganik dalam SPP tanpa terjadi pembakaran (combution). Ampas/sisa yang tidak berbahaya yang dihasilkan dari proses ini dapat digunakan sebagai bahan konstruksi, meskipun harganya tidak cukup komersial alias tidak terlalu menguntungkan.

 

Yang lebih penting lagi, panas yang ada mampu menguraikan molekul organik dalam SPP. Jika dalam pembakaran yang biasa akan dihasilkan banyak gas karbon dioksida, maka dalam sebuah lingkungan dimana jumlah oksigennya terbatas, SPP akan diubah menjadi sebuah campuran dengan kandungan gas utama karbon monoksida dan hidrogen yang disebut syngas. Nah syngas inilah yang bisa dimanfaatkan untuk menggerakan turbin gas. Hidrogen yang dimurnikan bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar, sedangkan campuran gas yang dihasilkan dari sampah ini terlebih dahulu harus diolah lagi untuk mengurangi kandungan polutan seperti nitrogen oksida dan dioksin, yang akan masuk ke dalam turbin atau lepas ke atmosfer.

 

Jepang sudah cukup sukses dengan teknologi ini. Pembangkit Utashinai sudah mampu menghasilkan 3000 megawatt energi per tahun, yang semuanya digunakan untuk menjalankan pembangkit tersebut. Nah sekarang mereka sedang bingung mencari sampah, karena suplai sampah di kota itu semakin berkurang. Namun demikian, selama ini ternyata baru 60% sampah (dari yang diharapkan oleh perusahaan) yang bisa diolah, selain itu energi listrik yang dihasilkan masih terbatas untuk digunakan oleh pembangkit itu saja, belum ada yang dijual. Fasilitas yang ada juga mengalami masalah operasional, dimana satu dari 2 fasilitas plasma arc yang ada sering tak beroperasi untuk perbaikan. Dan kalau kedua fasilitas yang ada itu berjalan semua, ternyata sampahnya yang tidak cukup. Mengimpor sampah, itulah salah satu alternatif yang ada agar pembangkit Utashinai bisa tetap beroperasi optimal. Sayangnya penduduk di sana masih tidak bersedia jika daerah tempat tinggalnya dijadikan tempat penimbunan atau pengolahan sampah dari daerah lain.

 

Pada pembangkit Utashinai, energi yang mampu diubah menjadi listrik hanya 15% saja, karena turbin gas yang digunakan dalam pembangkit ini lebih murah harganya jika dibandingkan dengan apa yang tengah dirancang oleh Geoplasma. Geoplasma rencananya akan menggunakan turbin gas seharga USD 40 juta dengan efisiensi 40%.

 

Meskipun teknologi ini memiliki potensi yang menakjubkan untuk mengurangi tumpukan sampah yang menggunung, namun penggerak lingkungan masih saja mewaspadai akan potensi polutan yang ada dalam syngas. Dalam laporan tahun 2006 tentang strategi konversi termal SPP, Greenaction for Health and Environmental Justice yang berbasis di California menyebut teknologi plasma arc dan gasifikasi dengan pemanasan tinggi lainnya sebagai incenerator yang tersamar.

 

Referensi: